Hari ini 35 tahun yang lalu
Bung Karno pernah mengatakan, "Jasmerah: Jangan sekali-sekali melupakan sejarah", tapi sekarang sepertinya kita lebih baik melupakan masa kelam masa lalu akibat peristiwa G 30 S.
Saya sengaja tidak mencantumkan PKI di belakang G 30 S, bukan karena saya simpatisan PKI atau ormas PKI, karena apa? Saya cenderung punya niat untuk tidak menjerumuskan sejarah.
Gerakan 30 September masih misterius dan tidak jelas siapa yang menggerakkan, apa motivasinya, dan paling merongrong bangsa, pada masa-masa itu tidak jelas siapa kawan, siapa lawan.
Sekarang ini, masih banyak terjadi bentrok antar anak bangsa, isu SARA sangat mumpuni untuk memecah-belah bangsa ini. Bangsa ini begitu gampang terprovokasi, yang menyulut pertentangan, bentrok bahkan hingga makan korban nyawa.
Sebaiknya bangsa ini lebih dewasa, lebih toleran (bukan toleransi semu) dan saling percaya, sehingga sejarah kelam bangsa di masa lalu tidak lagi terulang. Supaya kita menjadi bangsa yang besar seperti besarnya tanah air kita.
Selamat Berakhir Bulan,
Thursday, September 30, 2010
Jasmerah
Tuesday, February 24, 2009
Pembebasan Pembajakan Pesawat DC-9 Woyla
Tulisan ini saya buat bukan untuk meluruskan fakta, tetapi lebih sebagai respon atau kritik atas peberitaan Metro FIles seputar pembebasan sandera di pembajakan pesawat DC-9 Garuda Woyla, 28 Maret 1981 di Bangkok, Thailand.
Penerbangan Garuda DC-9 Woyla berangkat tanggal 21 Maret 2009 dari Jakarta, seyogyanya akan terbang dan mambawa penumpang menuju Bandara Polonia Medan. Sekumpulan 5 orang membajak pesawat dan memaksanya untuk menerbangkannya ke Srilanka, tetap sebelumnya mereka mengalihkan pendaratan ke Palembang. Setelah terlebih dulu transit di Penang, Malaysia akibat kekurangan bahan bakar, pesawat Woyla kemudian diperintahkan untuk terbang ke Bandara Don Muang, Bangkok. Tuntutan para teroris yaitu agar anggota Komando Jihad yang ditahan di Indonesia segera dibebaskan dan juga uang sejumlah US$ 1,5 juta. Mereka juga meminta pesawat untuk pembebasan tahanan, untuk terbang ke tujuan yang rahasia. Jika tidak mereka akan meledakkan pesawat.
Metro Files “Pembajakan Pesawat Woyla”, acara MetroTV yang ditayangkan hari Minggu malam tanggal 22 Februari 2009, (sekitar pukul 20:05), mengesampingkan peran dari Sintong Panjaitan (saat itu Komandan Kopassus, Letnan Kolonel Infanteri). Padahal Sintong saat itu berperan memimpin langsung operasi pembebasan pembajakan pesawat tersebut. Operasi pembebasan yang dilakukan 30 Prajurit Kopassandha - TNI AD dibawah Komandan Letnan Kolonel Infanteri Sintong Panjaitan dan Koordinator Letjen TNI LB. Moerdani berhasil membebaskan penumpang Garuda DC-9 di Don Muang, Thailand. Bahkan saya mengamati nama Sintong sama sekali tidak disebut di acara tersebut, begitu juga nama lain seperti Pelda Pontas Lumban Tobing. Sebaliknya Metro TV langsung mendapat informasi dari warancara langsung dari nama-nama lain seperti Sudomo, (saat itu menjabat Wapangkopkamtib) yang secara tidak langsung terlibat dalam peristiwa itu, Subagyo HS, Hedy Djuantoro, Co-Pilot DC-9 Woyla dan Retno Wiyana selaku pramugari pesawat Woyla. Kenapa Metro TV tidak mengkonfirmasi Sintong secara langsung?
Adakah ini bentuk marginalisasi tokoh-tokoh dari ras tertentu?
Detail......Monday, November 3, 2008
Profil SMA Negeri 1 Sidikalang
SMA Negeri 1 Sidikalang atau SMUN 1 Sidikalang adalah SMA Negeri tertua di Kabupaten Dairi. Institusi ini berdiri pada tahun 1962.
Berikut adalah data profil resminya:
SK Pendirian Sekolah Nomor : 42/SK/B/III/1962 Tanggal : 1962-01-17 Lembaga/Institusi SK : DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI Identitas ID Sekolah 070803408010 Nama Sekolah SMA NEGERI 1 SIDIKALANG NSS 301070508001 Alamat Sekolah Jalan D.R. F.L. TOBING NO. 1 SIDIKALANG Telepon 0627-21232 Kode Pos 22211 Kota Sidikang, DAIRI, SUMUT Fungsionaris Periode Kepala Sekolah 2009-sekarang Ramses Sitanggang, SPd 2008-2009 K. Sitanggang Sebelumnya Drs. Kaspar Sianipar 1993 – … RM. Simamora Informasi menyangkut struktural sejarah, dan profil lainnya masih dikumpulkan dan akan dilengkapi di kemudian hari.
Thursday, September 25, 2008
Menelusuri sejarah berdirinya IMADA
Gagasan mengenai perkumpulan mahasiswa dan pemuda asal sidikalang sebenarnya sudah sejak lama bergulir. Menurut sumber yang pernah ditemui penulis, di tahun 90-an sudah ada perkumpulan mahasiswa asal Dairi yang mencakup seluruh universitas di
Sejarah terbentuknya IMADA sesungguhnya masih terdiri dari banyak versi. Pada hakikatnya organisasi dikatakan sah berdiri pada saat proklamasi/ Preambule Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dikukuhkan dihadapan anggotanya.
Sepanjang ingatan penulis pada tahun 1997 ( berhubung penulis menjadi mahasiswa mulai tahun 1997-red) ide untuk membentuk suatu organisasi yang menyatukan mahasiswa dan pemuda asal Dairi tercetus pada saat pembentukan panitia Natal mahasiswa Kristen asal Sidikalang di kediaman sdr. Santhy Situngkir FP'96 (Kel Bp. Ir. BSC Situngkir) di Gaperta. Pada saat itu oleh senior-senior antara lain Sdr. Budi Tampubolon FH'92, Jekson Simanjuntak FT 93, Bontor Pakpahan FT'93, Sdr. Duatjon Martin Lbn Tobing FP'92, Fritz Tampubolon FT'95 di dalam rapat telah mengeluarkan pendapat untuk menyatukan pelaksanaan perayaan Natal Mahasiswa asal DAIRI. Tetapi dalam rapat tersebut ide tersebut tidak berkembang mengingat yang hadir sebahagian besar hanya mahasiswa USU beragama Kristen. Sehingga disepakati menyelenggarakan perayaan Natal mahasiswa asal Sidikalang yang mana sdr. Fritz Tampubolon FT'95 terpilih sebagai Ketua Panitia Natal.
Demikianlah perayaan Natal Mahasiswa asal Sidikalang bertempat di GKPI Jl. Putri Lopian tahun 1997 tersebut berlangsung sukses meskipun pada hari berdekatan juga berlangsung acara perayaan Natal mahasiswa Asal Dairi yang kuliah di UHN dan Unika.
Kondisi ini cenderung menimbulkan pertanyaan dari masyarakat Sidikalang terutama para orangtua yang direpotkan dengan banyaknya undangan beserta proposal perayaan natal mahasiswa dan pemuda setempat. Kondisi ini terjadi karena fanatisme kampus yang membuat sulitnya mempertemukan antara mahasiswa USU dengan mahasiswa dari UHN Medan maupun Unika st. Thomas
Tahun 1998 diwarnai fenomena Gerakan Mahasiswa dalam wacana sosial politik
Eksistensi IMADA USU sebagai organisasi kembali dibahas pada pertemuan pembentukan Panitia
Dalam perjalanan persiapan Perayaan Natal IMADA-USU wacana pembentukan organisasi resmi semakin berkembang. Hal ini diperkuat dengan munculnya tanggapan para senior, orangtua dan donatur yang cenderung sinis mengharapkan perlunya penyederhanaan kesatuan mahasiswa dalam menyelenggarakan perayaan - perayaan. Bupati Dairi pada saat itu Bp. SIS Sihotang dengan penuh semangat mengarahkan pemakaian Mess Pemda Dairi yang beralamat di Psr.6 P. Bulan sebagai tempat latihan Natal dan Posko Persiapan Pembentukan organisasi IMADA. Dalam satu audiensi dengan Bupati DAIRI di Mess Pemda saat itu Bp. SIS Sihotang banyak bercerita mengenai pentingnya pengalaman berorganisasi ketika di bangku perkuliahan dan bagaimana beliau kagum melihat perkembangan organisasi KMP3D di Bandung.
Pasca pembubaran panitia Natal IMADA-USU kurun waktu Januari- Mei 1999 beberapa mahasiswa yang masih peduli untuk pendirian IMADA berupaya mengadakan pertemuan di kos-kosan pasar 1. Tercatat Sdr. Jekson Marbun (FMIPA'96), Sdr. Sanjesti Lee (FMIPA'96), Sdr. Bantu Maspon (FE'96), Sdr. James Siahaan AK'97 beberapa kali mengadakan pertemuan di kosan Sdr. Mahir Pakpahan (EP'97) di JG 411. Tidak jarang juga pertemuan melibatkan adik-adik yang lebih junior yaitu sdr. Andi Ginting (MNJ'99) dan Sdr. Richard Naibaho (FT'99) dan Alex 'FISIP'00. Persoalan mendasar pada masa itu adalah sulitnya menyatukan persepsi mengenai cakupan IMADA yang meliputi Mahasiswa, Pelajar dan Pemuda asal Dairi. Demikian halnya dengan ide untuk meleburkan HIMPADA-Nommensen yang cenderung mendapat penolakan dari tokoh-tokoh seniornya (Sdr. Mangatur Aruan cs, Angkatan '96) dan teman-teman IMASI Unika (Sdr. Oriza Cs Angkatan 96). Lobi-lobi dan pertemuan yang dilakukan selalu berbuah penolakan. Alasan yang dikemukakan adalah pengalaman buruk masa lalu dalam hal dominasi dan kerumitan dalam manajemen keuangan. Komunikasi dengan organisasi pemuda dan Mahasiswa di Bandung KMP3D (Sdr. Domian Simanjuntak ITB'96) juga telah diupayakan tetapi tidak banyak hasil yang diharapkan.
Kendala lain adalah sulitnya mengumpulkan anggota dari mahasiswa USU sekalipun untuk pertemuan membahas Anggaran Dasar. Sehingga sampai adanya pergantian pengurus IMADA sendiri belum memiliki AD/ART yang
Aksi FORMASU-HIMDASU dalam penyaluran bantuan kepada korban bencana tanah longsor di Salak DAIRI sebenarnya cukup berhasil dan mendapat apresiasi yang positif dari masyarakat dan Pemda Dairi. Hanya saja dalam rencana program aksi selanjutnya yaitu aksi penghijauan dengan penanaman Pohon menemui kendala akibat tidak adanya konsistensi masing-masing elemen mahasiswa asal DAIRI. Sehingga lambat laun HIMDASU bubar tidak jelas beritanya.
Pasca ketidakjelasan HIMDASU akhirnya beberapa teman asal DAIRI mengambil kesimpulan untuk kembali membenahi IMADA dengan menuntaskan pembahasan mengenai Anggaran Dasar. Proses pengumpulan anggota masih menjadi kendala. Pada kurun waktu ini kembali kegiatan IMADA hanya temporer pada saat Natal. Meskipun tetap diadakan pembenahan dengan penuh kesabaran. Prinsip yang dipegang adalah IMADA akan berdiri dengan tetap menghargai keberadaan organisasi serupa yang telah berdiri di tempat lain. IMADA tetap terbuka untuk seluruh Mahasiswa Asal DAIRI dengan satu cita-cita pada waktu itu IMADA menjadi suatu organisasi ataupun lembaga yang benar-benar bermanfaat kepada kadernya. Harapan para pengurus adalah nantinya IMADA dapat eksis berkesinambungan menjadi wadah berkreasi para mahasiswa asal DAIRI dalam menyikapi perkembangan sosial masyarakat DAIRI.
Demikianlah sampai pada hari Minggu tanggal 20 Oktober 2002 di rumah salah satu anggota di Simalingkar diadakan pertemuan sekaligus pengukuhan AD/ART IMADA untuk pertama kalinya. Saat itu terpilih sdr. Alex dari FISIP USU sebagai Ketua IMADA. Jadi dapat dikatakan bahwa secara resmi pengukuhan IMADA adalah Oktober 2002. Seiring waktu berjalan orang datang dan pergi dari IMADA, begitupun memori dan catatan perjalanan organisasinya. Terlepas dari kelebihan dan kekurangan aktivis dan pengurus IMADA saat ini dapat disyukuri bahwa IMADA masih ada dan layak dipertahankan. Demikian dari saya. Semoga Bermanfaat.Horas...Mejuah-juah...
Koreksi dan saran ke: mahir.pakpahan@yahoo.com.
Detail......