Sunday, November 9, 2008

Istri yang licik

Ama ni Padot sudah lama sakit-sakitan, sudah banyak usaha yang dilakukan untuk mencari kesembuhan. Semua dokter di kota ini sudah dikunjungi, bahkan dia juga sudah dua kali berobat ke Penang. Beberapa dukun juga sudah dikunjunginya, tapi tetap saja penyakit yang dideritanya tidak sembuh. Untuk kedua kali Ama ni Padot dikunjungi Pendeta huria untuk mendoakan jemaatnya, apalagi Pendeta mendengar kabar ini bahwa langkah Ama ni Padot semakin melenceng dari kehendak Tuhan untuk mencari kesembuhan.

“Martangiang ma Amang sian bagas roha na ias, asa dibege Tuhan I pangodoanmu“, kata Pendeta Sinamo.

Satu malam, dengan sisa harapan, Amang ini berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, diboto Hu do boha parsahitakku, nunga leleng ahu marsahit, nunga godang parubatan hudalani. Alai dang adong hahipason hudapot.

“Sonari porsea do ahu tu Ho, na Ho pamalum sahit hu. Haru hamatean nunga ditaluhon Ho, lamu sahit sisongon on ma.
“Molo malum sahitku,songon balga manang hamuliateonku, hulehon pe subbangan tu huriami, sada ekkor hoda kesayanganki kujual pe i.

Beberapa hari kemudian, Amang itu sembuh dari sakit yang sudah lama dideritanya. Teringat akan janjinya, dia segera mengutarakan rencananya ini ke Parsinondoknya Nai Padot. Tapi, apa kata Nai Padot?
“Na oto do ho, molo tajual ho hoda I, aha be modalta laho maronan tu pokkan setiap ari?“, respon istrinya dengan nada marah.

“Nunga marjanji ahu tu Tuhan I, molo malum sahittu, ikkon lehononku do subbbangan nasa arga ni hodatta i tu gareja.
“Sonnari dia do maksudmu: na immarga nama hoda i sian ahu?“ kata suaminya mengakhiri pertengkaran tersebut.

Nai Padot masi tidak bisa menerima cara suaminya. Lalu otak piciknya pun bekerja. Karena Nai Padot tidak bisa lagi mengelak, maka dia pergi ke pasar untuk menjual kuda seperti yang dipesankan suaminya.

“Dijual satu ekor kuda Rp. 35.000;“begitu tulisan cetak tebal dan besar dari karton yang sengaja dililit di leher kuda di lokasi penjualan ternak di pasar.

Orang-orang pada rame mengerumuni Nai Padot dan kuda yang ditambatkan ngga jauh dari dia.

“Ia na hurang waras do Inang, boasa hoda na bagak jala na sehat songon on dijual ho holan 35 ribu rupiah?“, tanya satu orang dari kerumunan itu dengan rawut wajah yang heran, setengah mencibir.

“Toho do, 35 ribu rupiah ma arga ni hoda on hujual. Alai sada paket do dohot manuk jabbe na hutiop on,“ katanya sambil mengarahkan pandangan semua orang disitu ke arah ayam jantan yang dipegangnya.

Penasaran, tanpa dikomando, dengan berkoor, orang-orang bertanya lagi, “Sadia maha haroa ni manuk mu on?
“Arga ni manuk on 8 juta rupiah ma!“, sahut Nai Padot itu dengan nada yang pasti yang sengaja mengalihkan pandangannya ke atas menghindari keheranan yang terpancar di mata orang-orang tersebut.

“Bah, ai maddok si piga do ho Inang, na margait gai do ho“?
“Dia do masa arga ni manuk 8 juta?
Terus Nai Padot itu menjawab tak mau kalah, “Ai didia do masa arga ni hoda 35 ribu rupiah?

Pendek cerita, kuda dan ayam jantan itu jadi terjual ke salah satu pemeli yang sudah lama mengincar kuda tersebut, semuanya menjadi delapan juta tiga puluh lima rupiah. Cash.

Dengan senang hati Nai Padot tadi pulang membawa duit hasil penjualan ternak tersebut. Tak lama, dia langsung pergi ke rumah Sintua untuk menitipkan hamuliateon seperti yang diamanatkan suaminya.

“Nunga lakku hoda i?“ tanya Amani Padot ke istrinya.
“Nunga be Amang, nunga hupasahat be hamuliateon ta tu Sittua Hutasoit.“ Kata Nai Padot tanpa ditanya lebih lanjut.
“Sadia do dilehon ho?“ tanya Ama ni Padot.
“Tolu puluh lima ribu,“ jawab Nai Padot.
“Ai boasa holan nasa I dilehon ho?“ tanya Ama ni Padot dengan nada tinggi.
“Ai nasa I do lakku hoda ta i“ jawab Nai Padot.

Lama mereka bertengkar karena Ama ni Padot merasa sudah dipermainkan dalam kejadian ini. Setelah lelah dan capek bertengkar, Nai Padot memberi saran.
“Molo dang porsea ho, boi do sukkunonmu u akka jolma na di onan an“, coba Nai Padot berdalih untuk memecah kebuntuan.

Dengan setengah hati Ama ni Padot pergi ke pasar, menanyai beberapa orang. Dan, memang benar informasi yang dikatakan istrinya, bahwa harga kuda kesayangannya itu cuma dihargai 35 ribu rupiah.

Cililitan, 09/11/08
Ditulis dan dikembangkan setelah terinspirasi dari kotbah Pendeta.


PS:

Hoda = Kuda
Manuk=ayam
Onan=pasar tradisional

Detail......

Pahlawan Nasional (Baru)

Jakarta, Kompas, 09 November 2008
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan dan menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Dr. Mohammand Natsir, Mayor Jenderal (Pur) Soetomo atau Bung Tomo, dan KH. Abdul Halim. Ketiganya telah mengabdi dan berjasa secara luar biasa kepada negara dan bangsa.

Penetapan Presiden tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 041/TK/Tahun 2008 tertanggal 06 November 2008 dalam Sidang Dewan Tanda-Tanda Kehormatan RI.

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional dalam rangkaian peringatan Hari Pahlawan 10 November 2008 itu dilakukan di Istana Negara, Jakarta, Jumat (7/11).

Natsir, Bong Tomo, dan Abdul Halim dianugerahi gelar Pahlawan Nasional setelah mereka lama meninggal dunia.

Natsir, mantan Perdana Menteri RI (1950-1951) pertama, meninggal dunia 7 Februari 1993. Sutomo, mantan anggota DPR (1956-1959), meninggal dunia pada 7 Oktober 1981.Abdul Hakim, mantan Ketua Umum Persatuan Umat Islam, meninggal pada 7 Mei 1962.

Dalam sejarah Indonesia, Natsir berperan besar ketika menyatakan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dinyatakan pada tanggal 17 Agustus 1950 di tengah krisis kredibilitas Republik Indonesia Serikat.

“Mosi Integral”, Natsir merupakan salah satu mosi paling bernilai dalam sejarah parlemen dan kontemporer Indonesia. Natsir juga salah satu penandatangan “Petisi 50” untuk mrngoreksi kebijakan Presiden Suharto.

Bung Tomo adalah salah satu tokoh dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya saat melawan Belanda. Ia adalah sedikit dari tokoh pejuang kemerdekaan yang mendapat panggilan kehormatan “Bung” bersama Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Sjahrir.

Sementara itu, Abdul Halim berperan sejak perjuangan pembentukan dan kemerdekaan Indonesia hingga upaya mempertahankannya dari agresi Belanda.

Abdul Hakim juga ikut bergerilya bersama pejuang mempertahankan kemerdekaan dengan basis di sekitar kaki Gunung Ciremai pada Agresi Belanda II.

Ia memimpin penghadangan pergerakan militer Belanda di wilayah Karesidenan Cirebon.
Pengusulan Abdul Hakim sebagai pahlawan nasional dajukan Masyarakat Sejarawan Inonesia Cabang Jawa arat dan organisasi massa Persatuan Umat Islam Jabar. Abdul Halim adalah pahlawan ke-12 yang berasal dari Jabar.

Bintang Mahaputra
Selain tiga gelar Pahlawan Nasional, Presiden juga menganugerahkan Bintang Mahaputra Utama kepada PettaLolo La Sinrang (almarhum), tokoh pejuang Kerajaan Sawitto. Diberikan Bintang Budaya Perana Dharma kepada Wahyu Sihombing (almarhum) dan Marah Rusli (almarhum). (*)


Selamat Hari Pahlawan 10 November.

Detail......

Monday, November 3, 2008

Profil SMA Negeri 1 Sidikalang


SMA Negeri 1 Sidikalang atau SMUN 1 Sidikalang adalah SMA Negeri tertua di Kabupaten Dairi. Institusi ini berdiri  pada tahun 1962.
Berikut adalah data profil resminya:

SK Pendirian Sekolah  
Nomor : 42/SK/B/III/1962
Tanggal : 1962-01-17
Lembaga/Institusi SK : DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI
Identitas  
ID Sekolah 070803408010
Nama Sekolah SMA NEGERI 1 SIDIKALANG
NSS 301070508001
Alamat Sekolah  
Jalan D.R. F.L. TOBING NO. 1 SIDIKALANG
Telepon 0627-21232
Kode Pos 22211
Kota Sidikang, DAIRI, SUMUT
   
Fungsionaris  
Periode Kepala Sekolah
2009-sekarang Ramses Sitanggang, SPd
2008-2009 K. Sitanggang
Sebelumnya Drs. Kaspar Sianipar
1993 – … RM. Simamora

Informasi menyangkut struktural sejarah,  dan profil lainnya masih dikumpulkan dan akan dilengkapi di kemudian hari.

Detail......